Morfologi
|
Kelompok
2
|
|
Chendia Lufiandari
|
(A1B114009)
|
|
Ermawati
|
(A1B114016)
|
|
Hayatun Nufus
|
(A1B114073)
|
|
Megawati
|
(A1B114032)
|
|
Muhammad Firdaus
|
(A1B114080)
|
|
Nor Anisa
|
(A1B114087)
|
|
Ridho Ansyori
|
(A1B114094)
|
|
Rosmiati
|
(A1B114050)
|
|
Super Sumanto S.
|
(A1B114059)
|
|
Tri Kardina
|
(A1B112038
|
1.
Pengertian Morfologi
Kata morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani.
Morphologie terdiri dari dua kata yaitu, morphe
yang berarti bentuk dan logos yang
berarti ilmu. Bunyi [o] yang terdapat diantara
morphe dan logos ialah bunyi yang biasa muncul diantara dua kata yang
digabungkan. Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur pembentukannya itu, kata
morfologi berarti ilmu tentang bentuk.
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan
dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk
bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan
dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi
mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk
kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.
Dalam
kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata.
Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan
kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek
pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek
pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada
tingkat tertinggi.Itulah sebabnya, dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang
mempelajari seluk beluk kata (struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan
bentuk kata terhadap makna (arti) dan kelas kata.
2.
Morfem
Morfem adalah satuan bahasa yang
turut serta dalam pembentukan kata dan dapat dibedakan artinya. Morfem dapat
juga dikatakan unsur terkecil dari pembentukan kata dan disesuaikan dengan
aturan suatu bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem dapat berbentuk imbuhan.
Misalnya kata praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/ dan /duga/. Kata duga
merupakan kata dasar penambahan morfem /pra/ menyebabkan perubahan arti pada
kata duga.
2.1 Klasifikasi Morfem
2.1.1 Morfem
Bebas dan Morfem Terikat
a.
Morfem bebas
adalah morfem yang bersifat bebas dan tidak terikat dengan morfem lain.
Contoh : “saya”, “pulang”, “makan”, “rumah”, “bagus”, dsb.
b.
Morfem terikat
adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri sehingga harus digabung dengan
morfem lain.
Contoh : “ber-“, “kan“, “me-“, “juang”, “henti”, “gaul”, dsb.
2.1.2 Morfem
Segmental dan Morfem Supra Segmental
a.
Morfem Segmental adalah morfem yang terjadi dari fonem atau
susunan fonem segmental. Contoh : morfem {rumah}, dapat dianalisis ke dalam
segmen-segmen yang berupa fonem [r,u,m,a,h]. Fonem-fonem itu tergolong ke dalam
fonem segmental. oleh karena itu, morfem {rumah} tergolong ke dalam jenis
morfem segmental
b.
Morfem Suprasegmental adalah morfem yang terjadi dari fonem suprasegmental. Misal, jeda dalam
bahasa Indonesia. Contoh:
Bapak
wartawan
bapak//wartawan
ibu
guru
ibu//guru
2.1.3 Morfem
Bermakna Leksikal dan Morfem Tak Bermakna Leksikal
a.
Morfem yang bermakna leksikal merupakan satuan dasar bagi terbentuknya
kata. Morfem yang bermakna leksikal itu merupakan leksem, yakni bahan dasar yang
setelah mengalami pengolahan gramatikal menjadi kata ke dalam subsistem gramatika.
Contoh: morfem {sekolah} berarti ‘tempat belajar’.
b.
Morfem yang tak bermakna leksikal dapat berupa morfem imbuhan, seperti
{ber-}, {ter-}, dan {se-}. morfem-morfem tersebut baru bermakna jika berada
dalam pemakaian.
Contoh: {bersepatu} berarti ‘memakai sepatu’.
2.1.4 Morfem
Utuh dan Morfem Terbelah
a.
Morfem utuh merupakan morfem-morfem yang unsur-unsurnya bersambungan
secara langsung. Contoh: {makan}, {tidur}, dan {pergi}.
b.
Morfem terbelah morfem-morfem yang tidak tergantung menjadi satu keutuhan.
Morfem-morfem itu terbelah oleh morfem yang lain.
Contoh: {kehabisan} dan {berlarian} terdapat imbuhan ke-an atau {ke….an}
dan imbuhan ber-an atau {ber….an}. Contoh lain adalah morfem{gerigi} dan
{gemetar}. Masing-masing morfem memilki morf /g..igi/ dan /g..etar/. Jadi, ciri
terbelahnya terletak pada morfnya, tidak terletak pada morfemnya itu sendiri.
morfem itu direalisasikan menjadi morf terbelah jika mendapatkan sisipan, yakni
morfem sisipan {-er-} pada morfem {gigi} dan sisipan {-em-} pada morfem {getar}.
2.1.5 Morfem
Monofonemis dan Morfem Polifonemis
a.
Morfem monofonemis merupakan morfem yang terdiri dari satu fonem. Contoh:
Dalam bahasa Indonesia pada dapat dilihat pada morfem {-i} kata datangi atau
morfem{a} dalam bahasa Inggris pada seperti pada kata asystematic.
b. Morfem polifonemis merupakan morfem
yang terdiri dari dua, tiga, dan empat fonem. Contoh, dalam bahasa Inggris
morfem {un-} berarti ‘tidak’ dan dalam bahasa Indonesia morfem {se-} berarti
‘satu, sama’.
2.1.6 Morfem Aditif, Morfem
Replasif, dan Morfem Substraktif
a.
Morfem aditif adalah morfem yang ditambah
atau ditambahkan. kata-kata yang mengalami afiksasi. Contoh:
mengaji childhood
berbaju
houses
b. Morfem replasif merupakan morfem
yang bersifat penggantian.
Contoh: Dalam Bahasa Inggris terdapat morfem penggantian yang menandai
jamak. Contoh: {fut} Ã {fi:t}.
c.
Morfem substraktif adalah morfem yang alomorfnya terbentuk dari hasil
pengurangan terhadap unsur (fonem) yang terdapat morf yang lain. Biasanya
terdapat dalam bahasa Perancis.
2.1.7 Morfem Beralomorf Zero
Morfem beralomorf zero adalah salah satu alomorfnya
tidak berwujud bunyi segmental maupun suprasegmental, melainkan berupa
"kekosongan". Morfem beralomorf zero merupakan morfem penanda jamak dalam bahasa Inggris
dan tidak berlaku pada bahasa Indonesia. Morfem beralomorf zero
dilambangkan berupa Ø.
Contoh :
|
Kata benda
|
Bentuk
Tunggal
|
Bentuk
Jamak
|
|
Tidak beralomorf zero
|
book
|
Books
|
|
Beralomorf zero
|
sheep
|
Sheep
|
|
Kata Kerja
|
Kala Kini
|
Kala
Lampau
|
|
Tidak beralomorf zero
|
call
|
called
|
|
Beralomorf zero
|
hit
|
hit
|
2.2 Morf dan Alomorf
2.2.1 Morf
Morf adalah nama untuk
semua bentuk yang belum diketahui statusnya.
Contoh
: /i/ pada kata kenai .
2.1.2
Alomorf
Alomorf
adalah anggota dari
himpunan morf yag mewakili morfem khusus yang ditentukan secara
fonentis,leksikal,atau gramatikal.
Contoh [ber], [be], [bel] adalah alomorf dari
morfem ber-)
3. Kata
3.1 Hakikat
Kata
Kata adalah
satuan bahasa yang memiliki satu pengertian. Batasan kata yang umum kita jumpai
dalam berbagai buku linguistik Eropa adalah bahwa kata merupakan bentuk yang ke
dalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah dan keluar
mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat. Batasan tersebut menyiratkan
dua hal. Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya
tetap dan tidak dapat berubah serta tidak dapat diselipi atau diselang oleh
fonem lain. Kedua, setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam
kalimat, atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain; atau juga
dapat dipisahkan dari kata lainnya.
3.2 Klasifikasi
Kata
Para
tata bahasawan tradisional mengguaakan kriteria makna dan kriteria fungsi.
a. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasikan kelas
verba, nomina, dan ajektifa.
b.
Kriteria fungsi
digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina,
dan lain-lainnya.
3.3 Pembentukan
Kata
3.3.1 Inflektif
Kata-kata
dalam bahasa-bahasa berfleksi, seprti bahasa arab, bahasa latin, bahasa
sansekerta, untuk dapat digunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu
bentuknya dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu.
3.3.2 Derifatif
Pembentukan
kata secara derivatif adalah membentuk kata baru, kata yang identitas
leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya, contoh dalam bahasa indonesia
dapat diberikan. Contoh :
a.
kata air yang berkelas nomina
dibentuk menjadi mengairi yang
berkelas verba
b.
kata makan
yang berkelas verba dibentuk kata makanan yang
berkelas nomina.
4.
Proses Morfemis
4.1 Afiksasi
4.1.1 Pengertian Afiksasi
Afiksasi atau proses
pembubuhan imbuhan ialah pembentukan kata dengan cara melekatkan afiks(imbuhan)
pada bentuk dasar. Hasil afiksasi disebut kata berafiks atau kata berimbuhan.
Contoh :
ber- pada berkembang,
-el- pada telunjuk,
-an pada lemparan
per-an pada perjanjian
4.1.2
Macam-macam Afiks
a.
Ditinjau dari
Letaknya
-
Prefiks atau awalan ialah afiks
atau imbuhan yang dilekatkan pada awal bentuk dasar.
Contoh: ber- dalam kata berjalan, berdiri,
bekerja.
-
Infiks atau sisipan yaitu afiks
atau imbuhan yang dilekatkan di tengah-tengah bentuk dasar.
Contoh : -er-
dalam kata serabut, seruling, gerigi
-
Sufiks atau akhiran yaitu afiks atau imbuhan
yang dilekatkan sesudah bentuk dasar.
Contoh : -an dalam kata bacaan, makanan, tulisan
-
Konfiks atau imbuhan gabungan yaitu
afik atau imbuhan yang mengapit bentuk dasar dengan cara melekat secara
bersama-sama yang membentuk satu fungsi dari satu arti.
Contoh : -wi
dalam kata duniawi, ragawi, manusiawi
b.
Ditinjau dari
Asalnya
-
Afiks Asli
Afiks asli adalah afiks-afiks yang memang merupakan bentukan atau afiks
dari bahasa Indonesia itu sendiri. Contoh:
ke-an
+
adil
= keadilan
ter-
+
jatuh
= terjatuh
-
Afiks Asing
Afiks asing adalah afiks yang berasal atau hasil
adopsi dari bahasa asing yang kini telah menjadi bagian sistem bahasa
Indonesia. Untuk menyatakan suatu afiks bahasa asing telah diterima menjadi
afiks bahasa Indonesia, apabila afiks tersebut sudah mampu keluar dari
lingkungan bahasa asing dan sanggup melekat pada bentuk dasar bahasa Indonesia. Contoh:
pra-
+
sejarah
= prasejarah
-ik
+
patriot
= patriotik
c.
Ditinjau dari
Produktifitasnya
-
Afiks Improduktif
Afiks improduktif ialah afiks yang tidak distributif, yang tidak memiliki
kemampuan untuk melekatkan diri pada bentuk lain yang lebih banyak, terbatas
pada satuan-satuan tertentu.
Contoh : Afiks –da, hanya melekat secara terbatas pada
bentuk-bentuk yang menyatakan makna kekeluargaan, seperti kata ayahanda,
ibunda, pamanda, adinda, kakanda.
- Afiks Produktif
Afiks produktif merupakan kebalikan afiks improduktif ialah afiks yang
distributive yang besar kesanggupannya melekatkan diri pada morfem-morfem lain
lebih banyak.
Contoh : Afiks men- mampu menghasilkan kata-kata baru begitu produktif, seperti
terlihat pada kata-kata melebar, melangkah, menjadi, membengkak, membisu, dsb.
4.2 Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk
dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan
perubahan bunyi.
a.
Menurut
bentuknya, reduplikasi nomina dapat dibagi menjadi empat kelompok :
·
Perulangan utuh,
contoh: rumah-rumah
·
Perulangan salin suara,
contoh: warna-warni
·
Perulangan sebagian,
contoh: surat-surat kabar
·
Perulangan yang
disertai pengafiksan, contoh: batu-batuan
b.
Menurut
artinya, reduplikasi dapat dibagi menjadi berikut :
·
Kata ulang yang
menunjukkan makna jamak (yang menyangkut benda), contoh: meja-meja
·
Kata ulang berubah
bunyi yang memiliki makna idiomatis, contoh: bolak-balik
·
Kata ulang yang
menunjukkan makna jamak (yang menyangkut proses), contoh: melihat-lihat.
·
Bentuk ulang yang
seolah-olah merupakan kata ulang, contoh: kupu-kupu.
·
Bentuk ulang dwipurwa, contoh: dedaunan.
4.3 Komposisi
Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem
dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat sehingga
terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau
yang baru. Proses pembentukan kata dari dua morfem bermakna
leksikal.
Contoh
: lalu + lintas : lalu lintas
rumah + sakit
: rumah sakit
sapu + tangan : sapu tangan
4.4 Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi
a.
Konversi, sering juga disebut derivasi zero, transmutasi dan
transposisi, adalah proses pembentukan
kata dari sebuah kata menjadi kata lain
tanpa perubahan unsur segmental.
b.
Modifikasi internal (sering disebut juga penam bahan
internal atau perubahan internal) adalah
proses pembentukan kata dengan
penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang
berkerangka tetap.
c.
Suplesi adalah proses morfologis
yang menyebabkan adanya bentuk sama sekali baru
4.5
Abreviasi
4.5.1 Pengertian Abreviasi
Abreviasi
adalah proses penanggalan satu atau beberapa bagian kata atau kombinasi kata
sehingga jadilah bentuk baru. Kata lain abreviasi ialah pemendekan. Hasil
proses abreviasi disebut kependekan.
4.5.2
Klasifikasi bentuk-bentuk
abreviasi (kependekan)
Dalam
buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, terdapat dua klasifikasi
bentuk pemendekan, yaitu:
-
Singkatan
Singkatan ialah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf atau
lebih.
Singkatan terdiri dari:
a)
Singkatan nama
orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat.
b)
Singkatan nama
resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi serta nama dokumen resmi.
c)
Singkatan kata
yang berupa gabungan huruf.
d)
Singkatan
gabungan kata yang terdiri atas dua
e)
Lambang kimia
-
Akronim
Akronim ialah singkatan dari dua kata atau lebih yang
diperlakukan sebagai sebuah kata
a)
Akronim nama
diri yang berupa gabungan huruf awal unsur-unsur nama diri ditulis seluruhnya
dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya: SIM, LIPI.
b)
Akronim nama
diri yang berupa singkatan dari beberapa unsur ditulis dengan huruf awal
kapital.
Misalnya: Bulog, Iwapi.
c)
Akronim bukan
nama diri yang berupa singkatan dari dua kata atau lebih ditulis dengan huruf
kecil.
Misalnya: pemilu, rudal.
5.
Morfofonemik
Morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi,
atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik
afiksasi, reduplikasi maupun komposisi.